, TANGERANG — Mutiara Gitbay menjadi salah satuUMKM binaan PT Pertamina(Persero) yang mencatatkan perjalanan keberhasilan dalam mengakses pasar internasional.
Ni Made Pipin Fitria Agustini, pendiri UMKM Mutiara Gitbay, menceritakan bahwa bisnisnya yang telah beroperasi selama 11 tahun ini berfokus pada perhiasan mutiara dan emas.Rata-rata pendapatan yang ia peroleh saat ini berkisar antara Rp900 juta hingga Rp1 miliar setiap tahun.
Omset yang diperolehnya saat ini tidak terlepas dari peran pembinaan yang dilakukan oleh Pertamina. Pipin menyampaikan bahwa bisnisnya semakin berkembang setelahmendaftar sebagai UMKM Binaan Pertamina pada tahun 2022.Saat itu, menurut Pipin, upayanya meraih pendanaan sekitar Rp200 juta selama 3 tahun dari Pertamina.
Ia menyampaikan bahwa Pertamina juga memberikan pelatihan serta menyediakan sarana pameran berukuran nasional dan internasional bagi para UMKM, termasuk Mutiara Gitbay.
"Saya mengenal Pertamina pada tahun 2022, dimulai dari pendanaan yang diberikan oleh Pertamina kepada saya sebesar sekitar Rp200 juta selama 3 tahun," kata Pipin saat diwawancarai.Bisnisdi acara Pameran Perdagangan Indonesia (TEI) yang ke-40 di Hall 7 Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, hari Minggu (19/10/2025).

Ia menceritakan, pada tahun 2022, Pertamina membawa produk Mutiara Gitbay ke empat negara, yaitu Aljazair, Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Hong Kong.
Berkat perluasan pasar tersebut, rata-rata pendapatan Mutiara Gitbay terus meningkat, bahkan mencapai Rp1,8 miliar pada tahun 2024. Angka ini naik signifikan dibandingkan masa sebelumnya ketika ia bergabung dengan UMKM Binaan Pertamina.
Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa emas dan mutiara merupakan dua produk andalan dari Mutiara Gitbay. "Jadi fokusnya pada emas,main businessSaya berada di emas. Kemudian, aksesoris hanya sebagai pelengkap," tambahnya.
Dari segi harga, Pipin mengungkapkan bahwa produk yang ditawarkan oleh Mutiara Gitbay terbagi menjadi dua jenis, yaitu emas dan non-emas. Untuk kategori non-emas, harganya dimulai dari Rp50.000, sedangkan untuk emas berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp40 juta.
Perjalanan bisnis Mutiara Gitbay juga mengalami naik turun. Terlebih, bisnis mutiara sangat tergantung pada kondisi alam. Pipin menjelaskan, terkadang produksi mutiara tidak optimal karena makanan utama kerang penghasil mutiara, yaitu plankton, tidak berkualitas baik.
Kualitas plankton yang buruk dapat mengakibatkan mutiara yang dihasilkan kurang mengkilap atau tidak memiliki ukuran yang sesuai karena kerang tidak memperoleh nutrisi yang cukup.
"Jika kesedihannya mungkin seperti mutiara langka, ya. Jadi kadang ada masa-masa yang sulit, makanan dari plankton itu buruk atau rusak. Jadi kerang tidak memiliki makanan. Akibatnya produksinya juga tidak baik," jelasnya.
Selain itu, isu lainnya ialah perubahan harga emas yang dalam beberapa waktu terakhir meningkat tajam. Meskipun demikian, Pipin mengakui bahwa Mutiara Gitbay yang berada di bawah naungan UMKM Binaan Pertamina mampu melewati masa-masa sulit tersebut.
"Jadi memang tantangannya ada di sana. Tapi dengan berbagai bentuk pelatihan dan pengelolaan strategi dari Pertamina, kami mampu melewati semua hal ini," tambahnya.
Tidak berhenti sampai di situ, Mutiara Gitbay akan melakukan inovasi baru dengan menargetkan kalangan remaja generasi Z atau Gen Z, menghadirkan aksesoris bros mutiara dengan desain kecil dan menarik. Karena saat ini, segmen pasar Mutiara Gitbay berada di usia 30 hingga 60 tahun.
Mungkin saya akan terjun ke dunia desain remaja. Sebelumnya sudah ada [ke segmen remaja], tapi tidak fokus. Mungkin saya akan memfokuskan diri pada remaja yang sederhana dan biasa saja.Ini baru saja dimulai, banyak remaja yang suka. Jadi dari kerang laut saya membuat bros-bros kecil dan sederhana. Ini banyak disukai oleh para remaja Gen Z saat ini," katanya.
Karena berdasarkan hasil riset pasar yang dilakukan oleh Mutiara Gitbay, konsumen lebih menginginkan barang atau produk yang memiliki gaya sederhana dan tidak terlalu mewah.
“Tapi memang simpelyang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi saya akan memperkenalkan desain seperti itu. Ditambah lagi, mungkin saya akan memperluas segmen pasar lebih jauh. Sehingga bisa mencakup wilayah yang lebih luas," katanya.
Selanjutnya, Pipin berharap Mutiara Gitbay mampu mengelola usahanya dengan lebih mandiri dengan menjadi UMKM Binaan Pertamina serta dapat bekerja sama dengan UMKM lain di Indonesia.
"Harapan saya terhadap Pertamina mungkin setelah ini saya dapat semakin mandiri, dan dengan seringnya berjumpa dengan teman-teman di pameran Pertamina ini saya semakin memperluas peluang kerja sama dengan UMKM-UMKM dari seluruh Indonesia," tutupnya.
Pertamina Mengajak 45 UMKM Ikut Serta dalam Pameran Perdagangan Indonesia 2025
Pertamina menghadirkan 45 UMKM binaannya yang berprestasi dalam pameran dagang terbesar di Indonesia, Trade Expo Indonesia (TEI) 2025. Pertamina yakin produk andalan UMKM tersebut mampu masuk ke pasar ekspor sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian nasional.
Pertamina melaporkan bahwa UMKM binaannya mampu meraih transaksi sebesar Rp269,8 miliar selama penyelenggaraan TEI 2025 yang berlangsung pada 15–19 Oktober 2025. Jumlah tersebut sebagian besar berasal dari pesanan ekspor senilai Rp267,6 miliar, sementara sisanya adalah penjualan ritel sebesar Rp2,2 miliar.
Wakil Direktur Komunikasi Korporasi Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan, partisipasi UMKM binaan Pertamina dalam TEI 2025 merupakan bentuk nyata sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat daya saing bangsa.
"Pertamina tidak hanya berperan sebagai perusahaan energi nasional, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Melalui program TJSL, kami terus mendukung UMKM untuk berkembang dan bersaing secara global. Kami yakin, partisipasi 45 UMKM binaan ini bukan hanya sekadar memperlihatkan produk, tetapi juga memperkenalkan potensi terbaik bangsa kepada dunia," kata Fadjar.
Di pameran TEI 2025, Pertamina memperkenalkan produk UMKM binaannya yang unggul agar mampu menembus pasar internasional, dengan berbagai sektor produkcraft (kerajinan, dekorasi, souvenir), fashion( tekstil, batik, tenun, dan pakaian syar'i)food & beverage(makanan khas daerah yang diolah, produk olahan, dan sebagainya).
Fadjar mengatakan, UMKM telah melalui tahap kurasi sejak April 2025. Proses kurasi ini dilakukan melalui seleksi bertingkat dari berbagai aspek, seperti kualitas produk, kapasitas produksi, konsistensi, legalitas usaha, kemampuan ekspor, hingga kesiapan.branding dan digital marketing.
"Melalui seleksi yang menyeluruh, Pertamina memastikan bahwa UMKM binaannya yang tampil di TEI merupakan pelaku usaha yang telah siap berkompetisi di pasar global, baik dari segi produk maupun persyaratan legalitas dan sertifikasi yang diperlukan untuk masuk ke pasar luar negeri," kata Fadjar.
Selain pengurusan, Pertamina telah memberikan dukungan dan bimbingan yang intensif melaluicoaching clinicmeliputi pelatihan pengemasan merek (branding), pengemasan produk (packaging), dan aspek cerita produk (storytelling)Pelatihan diadakan dalam program UMK Academy, program pengembangan Pertamina untuk UMKM.
Selain itu, pelaku UMKM diberikan pelatihan ekspor oleh Pertamina bersama Pusat Pelatihan dan Pengembangan Ekspor Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan pada bulan Maret dan September 2025. Pelatihan ini menjadi bekal utama bagi UMKM dalam menghadapi pertemuan bisnis dengan calon mitra seperti distributor, pemasok, pembeli, maupun investor.
Melalui berbagai program pelatihan, UMKM diberikan pemahaman dasar mengenai ekspor, mulai dari aturan perdagangan internasional, standar kualitas produk global, perhitungan harga ekspor, hingga strategi memasuki pasar luar negeri.
Fadjar menyampaikan, dengan strategi ini, Pertamina tidak hanya memperkuat posisi UMKM binaan sebagai calon eksportir, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menjual secara ritel serta mempromosikan merek di pasar dalam negeri dan internasional.
"pendekatan dua arah — ekspor dan ritel — merupakan komponen penting dalam memperluas cakupan bisnis UMKM agar mampu bersaing dan berkelanjutan," kata Fadjar.